Gorontalo — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gorontalo secara tegas mendesak Kapolda Gorontalo untuk memperketat, bahkan mengevaluasi total aktivitas keluar-masuk mobil tangki yang diduga kuat terlibat dalam praktik mafia solar industri ilegal.
Ketua HMI Cabang Gorontalo, Rifai Silama menilai, dugaan permainan solar industri ilegal bukan lagi isu biasa, melainkan kejahatan terstruktur yang merampok hak masyarakat dan merugikan negara secara sistematis. Lemahnya pengawasan aparat dinilai menjadi celah empuk bagi perusahaan-perusahaan tertentu untuk leluasa menjalankan praktik nakal.
“Jika Kapolda Gorontalo tidak segera mengambil langkah tegas, maka patut dipertanyakan komitmen aparat dalam memberantas mafia BBM. Mobil tangki yang lalu-lalang tanpa pengawasan ketat adalah bentuk pembiaran,” tegas Ketua HMI Cabang Gorontalo.
HMI menilai bahwa praktik mafia solar industri ilegal tidak mungkin berjalan sendiri. Ada dugaan kuat keterlibatan jaringan yang memanfaatkan kelonggaran hukum, lemahnya pengawasan, bahkan potensi pembiaran oleh oknum tertentu.
“Solar industri bukan untuk dipermainkan. Ketika masyarakat biasa kesulitan mendapatkan BBM, harus mengantri panjang di SPBU, di saat yang sama ada perusahaan yang diduga menimbun dan mengalihkan distribusi, maka ini adalah kejahatan sosial,” lanjutnya.
HMI Cabang Gorontalo mendesak Polda Gorontalo untuk tidak hanya melakukan pengawasan administratif, tetapi juga melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap perusahaan-perusahaan yang memiliki riwayat kejahatan berupa praktik mafia solar industri ilegal, mulai dari izin operasional, jalur distribusi, hingga dugaan penyalahgunaan solar industri di lapangan.
Lebih jauh, HMI memperingatkan bahwa jika aparat penegak hukum terus lamban dan terkesan menutup mata, maka gerakan mahasiswa akan mengambil sikap lebih keras.
“Kami tidak akan diam. Jika hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, maka mahasiswa wajib berdiri di barisan perlawanan,” tegasnya.
Agl (baita)




