Eco-Anxiety: Depresi yang Kita Tidak Sadari Telah Kita Rasakan Bersama

Gambar kecemasan akibat kerusakan lingkungan Sumber: artificial intelligence

Selama ini, kita dipaksa percaya bahwa kesedihan yang kita rasakan saat melihat hutan gundul atau sungai yang berubah warna menjadi lumpur adalah masalah pribadi, hanya sebuah “sensitivitas” yang berlebihan. Kesedihan yang kita alami hanya didiagnosis dengan stres, kecemasan, atau kelelahan mental biasa. Namun, mari kita jujur: Itu bukan sekadar depresi klinis. Itu adalah reaksi waras terhadap dunia yang sedang dihancurkan secara paksa di depan mata kita.

Tanpa kita sadari, kita sedang mengalami eco-anxiety massal, sebuah bentuk depresi kolektif yang tidak kita sadari namun terus kita pendam sendiri-sendiri di balik pintu rumah yang terancam banjir dan hilangnya harapan “hijau” dimasa depan.

Bacaan Lainnya

Spiral Ketidakberdayaan dan Kesehatan Mental

Ketidakberdayaan (learned helplessness) muncul ketika masyarakat melihat kerusakan lingkungan terjadi secara sistematis baik akibat deforestasi maupun aktivitas ekstraktif namun merasa tidak memiliki kekuatan politik atau ekonomi untuk menghentikannya. Secara psikologis, dampak ini bersifat akumulatif:

Bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam yang kian rapuh, setiap mendung yang menggelap adalah sinyal peringatan akan datangnya potensi bencana. Fenomena psikologis ini bukan sekadar ketakutan biasa; ini adalah “Solastalgia”. Berbeda dengan nostalgia yang merindukan rumah saat kita jauh, solastalgia adalah rasa sakit hati dan distres yang dirasakan ketika seseorang masih berada di rumahnya, namun lingkungan rumah tersebut berubah secara drastis dan destruktif di depan mata mereka sendiri sementara kita tidak berdaya melihat ingkungan tempat kita beraktifitas dan tempat untuk kita mengais kehidupan hancur akibat kerusakan lingkungan.

Kita saat ini sedang mengalami depresi yang dimaksut oleh Seligman (1975) dalam buku Helplessness; bahwa ketika makhluk hidup berkali-kali dihadapkan pada situasi buruk yang tidak bisa dikontrol (seperti kerusakan lingkungan masif oleh korporasi), mereka akhirnya berhenti mencoba melawan dan jatuh ke dalam depresi klinis. Namun depresi yang dimaksud Seligman bukanlah sekadar kesedihan, melainkan hilangnya keyakinan bahwa tindakan kita memiliki pengaruh terhadap hasil akhir di masa depan.

Perasaan learned helplessness yang kita rasakan saat ini bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah hasil dari perusakan lingkungan yang tidak terbendung, yang secara sistematis merampas rasa aman dari jiwa kita. Seringkali, kita tidak menganggap kehilangan hutan sebagai alasan yang sah untuk berduka seperti kehilangan anggota keluarga. Hal ini membuat duka tersebut “terpendam” dan menjadi racun bagi mental. Dalam kajian Elisabeth Kübler-Ross (Adaptasi dari teori duka),  “kita tidak hanya berduka atas apa yang telah hilang, tetapi juga atas masa depan yang kita tahu tidak akan pernah terwujud.”. Secara psikologis, kita sedang dipaksa hidup dalam kondisi “Antisipatory Grief “ sebuah duka yang dialami bahkan sebelum kehilangan itu benar-benar tuntas. Kita berduka atas masa depan anak-anak kita yang dirampas oleh kerakusan ekonomi jangka pendek.

Tidak hanya setiap kali hujan turun dan jantung akan berdegup kencang karena takut akan longsor dan banjir, tapi perasaan learned helplessness serta kehilangan harapan untuk hidup layak dan tenang dari bencana alam dikemudian hari akibat kerusakan lingkungan. Saat kita merasakan perasaan ini, ingatlah bahwa kecemasan ini adalah bukti bahwa jiwa kita menolak kehancuran yang terjadi. Ini bukan kelemahan mental; ini adalah alarm bentuk perlawanan moral yang paling murni untuk kesahatan psikologis dan biologis kita.

Dampak Buruk Pada Kesehatan Psikologis dan Biologis 

Menurut Glenn Albrecht (Bapak psikologi lingkungan). “Kesehatan manusia pada akhirnya bergantung pada kesehatan ekosistem. Jika lingkungan kita sakit, maka secara psikologis dan biologis, kita mustahil untuk merasa sepenuhnya sehat”. Secara ilmiah, kerusakan lingkungan seperti yang kita alami saat ini bukan hanya soal gunung yang dikeruk dan hilangnya pohon, tapi soal pemutusan saraf-saraf kehidupan.

Dalam sebuah jurnal penelitian yang berjudul Climate change, mental health and wellbeing – emerging evidence — Gieve et al. (2024). Menyebutkan setidaknya ada 3 dampak psikologis maupun biologis yang terjadi akibat kerusakan lingkungan:

  • Kortisol yang Meracuni: Hidup di lingkungan yang rusak secara permanen meningkatkan hormon kortisol secara kronis. Kita tidak hanya depresi secara mental, tubuh kita secara biologis sedang “diracuni” oleh lingkungan yang tidak lagi mendukung kehidupan.
  • Hilangnya Amandemen Psikologis: Alam adalah penyeimbang neurokimia otak manusia. Hilangnya hutan bukan hanya deforestasi, tapi “amputasi” terhadap sistem pendukung kesehatan mental kita yang paling dasar.
  • Ketidakadilan Iklim: Data global menunjukkan bahwa mereka yang paling sedikit merusak alam (rakyat kecil, petani, masyarakat adat) adalah yang paling berat menanggung beban depresi lingkungan ini. Ini adalah bentuk penindasan mental yang sistematis.

Dalam teori Attention Restoration Theory (ART) oleh Rachel & Stephen Kaplan. Alam adalah satu-satunya tempat yang bisa memulihkan kelelahan mental manusia secara alami. Tanpa alam, otak manusia terus berada dalam kondisi “fight or flight” (siaga). Kondisi fight or flight merupakan respons biologis alami otak terhadap ancaman yang diatur oleh sistem saraf simpatis dan aksis hypothalamic pituitary adrenal (HPA), yang dalam jangka pendek membantu manusia bertahan hidup, tetapi bila berlangsung terus-menerus justru menimbulkan dampak buruk secara psikologis dan biologis. Secara psikologis, otak yang terus berada dalam mode siaga mengalami kecemasan kronis, hiperwaspada, gangguan konsentrasi, iritabilitas, penurunan kemampuan berpikir rasional, serta peningkatan risiko depresi akibat perasaan tidak aman dan tidak berdaya yang berkepanjangan. Sedangkan secara biologis, aktivasi stres yang kronis menyebabkan pelepasan hormon kortisol secara terus-menerus, yang dapat merusak keseimbangan tubuh, menekan sistem imun, meningkatkan peradangan, mengganggu metabolisme dan pencernaan, serta meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Pada level otak, kortisol yang berkepanjangan melemahkan fungsi prefrontal cortex yang bertugas mengendalikan emosi dan pengambilan keputusan, memperkecil hippocampus yang berperan dalam memori dan regulasi stres, serta membuat amigdala menjadi hiperaktif sehingga rasa takut dan ancaman terasa semakin intens. Akibatnya, tubuh dan pikiran hidup dalam kondisi darurat permanen, seolah terus terancam, meskipun ancaman tersebut bersifat struktural atau kronis, bukan bahaya sesaat, yang pada akhirnya menggerus kesehatan mental dan biologis secara menyeluruh.

Mengubah Kecemasan Menjadi Kemarahan yang Terorganisir

Mengobati eco-anxiety tidak cukup hanya dengan minum obat atau konsultasi ke psikolog. Jika penyebab kecemasannya adalah eksploitasi alam yang ugal-ugalan, maka obatnya adalah kedaulatan ekologi.

Kita tidak butuh lagi sekadar “bertahan hidup” (surviving); kita butuh “melawan” (resisting). “Reaksi yang tidak normal terhadap situasi yang tidak normal adalah perilaku yang normal.” Viktor Frankl (psikolog penyintas kamp konsentrasi). Ketidakberdayaan adalah senjata yang digunakan oleh mereka yang merusak alam agar kita tetap diam. Saat kita menyadari bahwa depresi ini kita rasakan bersama, maka kesedihan itu berubah menjadi kekuatan kolektif.

Jangan biarkan kecemasanmu padam menjadi keputusasaan. Biarkan dia membara menjadi kemarahan yang menuntut keadilan. Kita tidak hanya sedang sakit mental; kita sedang diperingatkan oleh nurani kita sendiri bahwa bumi tempat kita berpijak sedang sekarat dan diam bukanlah pilihan.

 

Penulis merupakan psikologi enthusiast. Mantan koordinator wilayah Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi (ILMPI) Wilayah Sulawesi, Maluku, Papua. Saat ini tinggal di Pohuwato.

Pos terkait